Apa Sebenarnya Sensasi "Merinding" Itu?

Rasa dingin yang menjalar di tulang punggung saat melihat kantung biji teratai. Perasaan tidak tenang di dada saat menatap lubang-lubang rapat pada kepala pancuran. Mengapa kita bereaksi seperti ini terhadap pola berkerumun?

Psikologi Evolusioner: Sisa Sistem Deteksi Bahaya

Hipotesis terkuat menyatakan bahwa tripofobia adalah "produk sampingan dari sistem deteksi bahaya yang dikembangkan nenek moyang kita demi bertahan hidup."

Tiga pola bahaya yang patut dihindari

  1. Makhluk berbisa: katak panah beracun, alat isap gurita, jamur beracun — organisme yang menandakan bahaya lewat pola rapat
  2. Tanda-tanda infeksi: kelainan kulit akibat cacar, campak, atau penyakit parasit
  3. Gugusan telur parasit: telur lalat botfly dan lalat lainnya, larva botfly manusia

Kemampuan menilai semua itu sebagai "berbahaya" dalam sekejap dan menghindarinya tentu sangat meningkatkan peluang bertahan hidup nenek moyang kita.

Harga dari "deteksi berlebihan"

Masalahnya, sistem deteksi bahaya manusia berevolusi ke arah "lebih baik bereaksi berlebihan daripada melewatkan ancaman." Prinsip ini dikenal sebagai Smoke Detector Principle (prinsip detektor asap), dan akibatnya kita:

  • Bereaksi terhadap kantung biji teratai yang sama sekali tidak berbahaya
  • Tetap waspada terhadap pola geometris seperti sarang lebah
  • Bahkan merasa jijik terhadap makanan (telur salmon, delima)

Neurosains: Di Bagian Otak Mana Ini Terjadi

Sebuah studi University of Kent tahun 2017 mengukur aktivitas otak dengan fMRI saat subjek melihat gambar agregat, dan menemukan aktivasi pada:

  • Amigdala: mengatur rasa takut dan keengganan
  • Korteks insular: memproses rasa jijik dan sensasi viseral
  • Korteks visual: pengenalan pola

Menariknya, respons ini lebih menyerupai pola "jijik" (khas sistem penghindaran penyakit) ketimbang "takut" (khas fobia). Hal ini mendukung dugaan bahwa asal-usul evolusionernya adalah penghindaran infeksi.

Hipotesis Karakteristik Visual

Gambar agregat memiliki profil frekuensi spasial yang khas (kontras tinggi × frekuensi menengah) yang membebani pemrosesan visual otak. Hal ini dapat:

  • Menimbulkan "ketidaknyamanan visual" (visual discomfort)
  • Memunculkan rasa janggal karena pola tidak dapat dicerna sepenuhnya

Dengan kata lain, sekadar sebagai "gambar yang melelahkan mata" pun, pola seperti ini sudah dapat ikut memicu rasa jijik.